[Review buku] Indonesia Mengajar 2

“Anak-anak muda ini telah tunai bertugas, betapapun kecil mereka telah ikut memainkan peran bagi saudara sebangsa.” (viii – Anies Baswedan)
Meski memendam rasa tidak puas akan singkatnya cerita yang ditulis di Indonesia Mengajar (maunya lebih banyak lagi), namun saya masih tetap penasaran akan pengalaman yang akan dibagikan para Pengajar Muda II.
Sudah cukup banyak hal yang mencoreng  wajah pendidikan negeri ini. Mulai dari ketidakpedulian penerintah, perilaku anarkis para murid, hingga perbuatan tak pantas yang dilakukan para guru. Saking bobroknya, gaung keberhasilan para tunas-tunas bangsa di ajang internasional pun tenggelam. Yang tersisa hanyalah cerita tentang bobroknya pendidikan di negeri ini.
Para guru sebagai garda terdepan pun tak lekang oleh cap negatif. Kasus pemukulan yang dilakukan guru terhadap muridnya sudah menjadi hal yang lumrah yang cukup sering dijumpai dalam berita di televisi nasional. Hingga menimbulkan pertanyaan “Apa yang sudah diajarkan kampus penghasil tenaga pendidik sehingga menghasilkan lulusan seperti itu?” Ataukah itu terpulang kepada masing-masing individu? Jika moral guru sudaj sedemikian parahnya, lantas bagaimana lagi moral para anak didiknya. Maka benarlah pepatah berkata “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari“. Benarkah seperti itu?
Beta ini guru, Pak, digugu dan ditiru. Bagaimana beta mengajar anak-anak beta untuk tidak minum dan merokok kalau sudah besar kalau beta sendiri perbuat akang barang itu?” (p. 75)
Adalah Pak Teddy, seorang guru muda di Kecamatan Molu Maru, Maluku Tenggara Barat yang mengucapkan kalimat sederhana nan sarat makna itu. Sadar akan statusnya sebagai seseorang yang mendapat kehormatan lebih dimata masyarakat, Pak Teddy berusaha meninggalkan kebiasaan yang telah ditekuninya selama bertahun-tahun. Tak hanya masalah kebiasaan buruk, beliau juga tak pernah setengah hati dalam menjalankan profesinya. Ketika jumlah guru yang mengajar di sekolahnya telah mencukupi barulah ia mengajukan beasiswa tugas belajar di Manado. Sungguh keputusan yang diambil bukan memandang pribadi melainkan keadaan keadan para murid yang terancam terlantar jika ia mengajukan beasiswa tugas belajar ketika formasi guru di sekolahnya masih sangat kurang. Benar-benar sosok yang patut ditiru dedikasinya.
Guru jelas punya posisi tak kalah penting di mata para anak didik. Kedudukan mereka bahkan tak jarang disandingkan dengan kedudukan orangtua. Menurut Grace, Pengajar Muda di Kabupaten Roten Ndao Nusa Tenggara Timur, dari hasil perbincangannya dengan para murid, guru ada diposisi ketiga setelah Tuhan dan orangtua. Dengan posisi sedemikian penting, patutkah guru bertindak tak terpuji?
“Guru tidak hanya mengajar dalam kelas, tetapi menjadi panutan dimana pun ia berada. Sebanyak apapun ia berkata-kata hal yang baik, lebih berdampak kalau ia memberi contoh yang baik. Tidak hanya mengimani hal baik, tetapi memberi bukti perbuatan baik.” (p. 76 – Bartolomeus Bagus Praba K.)
Pemerintah bisa jadi memandang penting kebutuhan pendidikan di negeri ini. Sehingga tembok sekolah nyaris rubuh, hanya dibatasi sekat-sekat tipis untuk membagi ruangan, hanya berlantaikan tanah dan menjadi langganan banjir, atau akses ke sekolah menjadi terhambat karena satu-satu jalan atau jembatan yang dapat digunakan mengalami longsor dan terputus. Tapi itu semua tak menyurutkan langkah anak-anak untuk datang ke sekolah meski kadang harus bertaruh nyawa demi bisa sampai disekolah.
Walau terkesan kurang mendapat perhatian pemerintah, rasa memiliki negeri ini hendaknya jangan pernah pudar. Apalagi bagi para penduduk  yang berada di pulau-pulau terluar Indonesia. Negeri seberang yang gilang gemilang hanya sejauh pandangan mata. Sungguh menggoda rasa nasionalisme. Tidak percaya? Ada Belqis, Pengajar Muda Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang terhenyak saat anak-anak muridnya menjawab nama ibukota Indonesia adalah Serawak. Atau tanya saja Fendi Mulyo, Pengajar Muda di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara seberapa besar rasa haru sekaligis bangga yang ia rasakan ketika akhirnya Sang Saka Merah Putih pertama kali berkibar di Desa  Nadenakele, tepatnya di SDN Inpres Nadenakele.
Inilah realitas negeri kita. Miris? Iya. Menyedihkan? Sudah pasti. Pasrah? Jelas tidak. Indonesia Mengajar adalah bukti nyata ada banyak orang yang percaya dan bertindak untuk melaksanakan salah satu amanat yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Sejarah menulis bahwa negeri kita memiliki jutaan pahlawan tak dikenal. Sejarah panjang bangsa kita sampai hari ini dipenuhi oleh perjuangan panjang para leluhur kita yang kode genetikanya ada di darah kita.
Ya, Anda semua, anak muda Indonesia dan seluruh bangsa Indonesia memiliki kode genetika sederhana bernama : berjuang. Dan karena itu bila dihadapkan pada pilihan sederhana, kita akan memilih dengan mudah : lebih baik menyalakan lilin daripada sekedar mengutuki kegelapan. Lebih baik berjuang daripada berpangku tangan.” (p. xv – Anies Baswedan)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s