sifat pemaaf dan sabar nabi

Sifat Pemaaf dan sabar Nabi
Bulan Rabaiul awal adalah bulan dimana nabi kita Muhammad SAW dilahirkan. Sebagian umat muslim merayakannya dengan mengadakan peringatan kelahirannya. Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang taat beribadah, meskipun dia sudah diampuni dan dijaga oleh Allah dari berbuat dosa. Tapi ada satu hal yang harus kita ingat dari sifatnya yang mulia yaitu kesabaran dan pemaafnya.
Bukan hanya sekali saja Nabi dihina. Bahkan ada seorang wanita tua yang berani

mencerca Nabi. Setiap kali Nabi melintas muka rumahnya, kala itu pula si wanita meludahkan air liurnya, “cuh,cuh,cuh.” Peristiwa itu berulangkali terjadi, bahkan hampir setiap hari.
Suatu kali, ketika Nabi lewat di depan rumahnya, si wanita tadi tak lagi meludahinya. Bahkan, batang hidungnya saja tak kelihatan pula. Nabi pun menjadi “kangen” akan air ludah si wanita tadi. Karena penasaran, Nabi lantas bertanya kepada seseorang, “Wahai Fulan, tahukah engkau, dimanakah wanita pemilik rumah ini, yang setiap kali aku lewat selalu meludahiku?”
Orang yang ditanya menjadi heran, kenapa Nabi justru menanyakan, penasaran, dan tak sebaliknya merasa kegirangan. Namun, si Fulan tak ambil peduli, oleh karenanya ia segera menjawab pertanyaan Nabi, “Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa si wanita yang biasa melidahimu sudah beberapa hari terbaring sakit?” Mendengar jawaban itu Nabi mengangguk-angguk, lantas melanjutkan perjalanan untuk ibadah di depan Ka’bah, bermunajat kepada Allah Pemberi Rahmah.
Sekembalinya dari ibadah, Nabi mampir menjenguk wanita peludah. Ketika tahu, bahwa Nabi, orang yang tiap hari dia ludahi, justru menjenguknya, si wanita menangis dalam hati. “Duhai betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjenguk kemari.” Dengan menitikan air mata haru bahagia, si wanita bertanya, “Wahai Muhammad, kenapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?”
Nabi menjawab, “Aku yakin, engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau mengetahuinya, aku yakin engkau tak akan lagi melakukannya.”
Mendengar ucapan bijak dari amnusia utusan Allah swt ini, si wanita menangis dalam hati. Dadanya sesak, tenggorokannya serasa tersekat. Lantas, setelah mengatur nafas akhirnya ia dapat bicara lepas, “Wahai Muhammad mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.” Lantas si wanita mengikrarkan dua kalimat syahadat.
Dalam kesempatan lain dikisahkan ketika beliau menyeru dan berdakwah untuk penduduk Thaif, dimana mereka tidak mau mengikuti seruan, bahkan malah balik menyerang dan menyakiti Nabi dan para sahabat beliau. Demi menyaksikan perlakuan yang sangat tidak berprikemanusiaan tersebut Jaibril tidak sabar dan meminta ijin kepada Nabi untuk membalaskan sakit hati Nabi kepada penduduk Thaoif, tetapi Nabi malah justru melarangnya, dan mengatakan: “jangan Jibril, karena pada dasarnya mereka itu tidak tahu, dan kalau mereka tetap tidak mau memenuhi seruan Islam, kita masih bisa mengaharapkan anak-anak mereka dan cucu-cucu mereka akan mau menerima dakwah ini”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s