Buku Kisah inspiratif: sekolah yang menyenangkan

 

 

 

 

Iklan

review buku : sekolah yang menyenangkan

Judul: Sekolah yang Menyenangkan

Penulis: Anna Farida, Suhud Rois, Edi S. Ahmad
Penerbit: Nuansa Cendekia, Juli 2012
Tebal: 300 Halaman
Harga: Rp 55.000,-
Teori pendidikan mungkin tumpah ruah di berbagai buku, tapi “Sekolah yang Menyenangkan” memaparkan sajian lain dengan mengedepankan nilai empirisme pembelajaran. Inilah rekam jejak penyelenggaraan pembelajaran day to day, mulai dari perencanaan hingga evaluasi.
Anna Farida, sangat memperhatikan dunia pendidikan. Edi Sudrajat Ahmad konseptor sekolah interaktif. Suhud Rois, praktisi pendidikan yang secara mendalam telah menguasai landasan sekolah interaktif. Ketiganya menyatukan pandangan berkaitan dengan proses pembelajaran.
Berbekal kemampuan empiris di lapangan, ketiga penyusun buku ini tidak hanya mengangkat persoalan-persoalan problem pembelajaran, melainkan juga memberikan banyak terobosan berkaitan persoalan-persoalan sumberdaya anak, terutama anak sekolah dasar.
Di dalamnya memuat berbagai bidang praktis seperti, manajemen kelas, Panduan kegiatan outdoor, kegiatan khas interaktif, peran guru sebagai fasilitator, Manajemen hubungan guru dengan orangtua dan masyarakat, Pembangunan etika dan religiusitas siswa Indonesia dan lain-lain.
Berpijak pada kerangka empiris, namun sekaligus ilmiah-konseptual, “Sekolah yang Menyenangkan” tak lagi bercerita tentang metode tradisional yang ketinggalan zaman. Buku ini bertutur dengan bahasa praktis dan dinamis; tentang pengelolaan pembelajaran yang interaktif. Anda bisa mengintip bagaimana guru menciptakan suasana belajar yang seru, di dalam dan di luar kelas.
Guru bisa langsung menjadikannya panduan untuk manajemen kelas yang interaktif dan menyenangkan. Di saat yang sama, orangtua bisa menjadikannya acuan untuk menjalin kerja sama yang produktif dengan sekolah.  Sebuah buku luar biasa untuk meningkatkan kompetensi dan kepribadian guru, terutama guru sekolah dasar dan sekolah menengah, juga untuk guru taman kanak-kanak. []
Sekolah yang Menyenangkan

Sekolah yang Menyenangkan

[Review buku] Indonesia Mengajar 2

“Anak-anak muda ini telah tunai bertugas, betapapun kecil mereka telah ikut memainkan peran bagi saudara sebangsa.” (viii – Anies Baswedan)
Meski memendam rasa tidak puas akan singkatnya cerita yang ditulis di Indonesia Mengajar (maunya lebih banyak lagi), namun saya masih tetap penasaran akan pengalaman yang akan dibagikan para Pengajar Muda II.
Sudah cukup banyak hal yang mencoreng  wajah pendidikan negeri ini. Mulai dari ketidakpedulian penerintah, perilaku anarkis para murid, hingga perbuatan tak pantas yang dilakukan para guru. Saking bobroknya, gaung keberhasilan para tunas-tunas bangsa di ajang internasional pun tenggelam. Yang tersisa hanyalah cerita tentang bobroknya pendidikan di negeri ini.
Para guru sebagai garda terdepan pun tak lekang oleh cap negatif. Kasus pemukulan yang dilakukan guru terhadap muridnya sudah menjadi hal yang lumrah yang cukup sering dijumpai dalam berita di televisi nasional. Hingga menimbulkan pertanyaan “Apa yang sudah diajarkan kampus penghasil tenaga pendidik sehingga menghasilkan lulusan seperti itu?” Ataukah itu terpulang kepada masing-masing individu? Jika moral guru sudaj sedemikian parahnya, lantas bagaimana lagi moral para anak didiknya. Maka benarlah pepatah berkata “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari“. Benarkah seperti itu?
Beta ini guru, Pak, digugu dan ditiru. Bagaimana beta mengajar anak-anak beta untuk tidak minum dan merokok kalau sudah besar kalau beta sendiri perbuat akang barang itu?” (p. 75)
Adalah Pak Teddy, seorang guru muda di Kecamatan Molu Maru, Maluku Tenggara Barat yang mengucapkan kalimat sederhana nan sarat makna itu. Sadar akan statusnya sebagai seseorang yang mendapat kehormatan lebih dimata masyarakat, Pak Teddy berusaha meninggalkan kebiasaan yang telah ditekuninya selama bertahun-tahun. Tak hanya masalah kebiasaan buruk, beliau juga tak pernah setengah hati dalam menjalankan profesinya. Ketika jumlah guru yang mengajar di sekolahnya telah mencukupi barulah ia mengajukan beasiswa tugas belajar di Manado. Sungguh keputusan yang diambil bukan memandang pribadi melainkan keadaan keadan para murid yang terancam terlantar jika ia mengajukan beasiswa tugas belajar ketika formasi guru di sekolahnya masih sangat kurang. Benar-benar sosok yang patut ditiru dedikasinya.
Guru jelas punya posisi tak kalah penting di mata para anak didik. Kedudukan mereka bahkan tak jarang disandingkan dengan kedudukan orangtua. Menurut Grace, Pengajar Muda di Kabupaten Roten Ndao Nusa Tenggara Timur, dari hasil perbincangannya dengan para murid, guru ada diposisi ketiga setelah Tuhan dan orangtua. Dengan posisi sedemikian penting, patutkah guru bertindak tak terpuji?
“Guru tidak hanya mengajar dalam kelas, tetapi menjadi panutan dimana pun ia berada. Sebanyak apapun ia berkata-kata hal yang baik, lebih berdampak kalau ia memberi contoh yang baik. Tidak hanya mengimani hal baik, tetapi memberi bukti perbuatan baik.” (p. 76 – Bartolomeus Bagus Praba K.)
Pemerintah bisa jadi memandang penting kebutuhan pendidikan di negeri ini. Sehingga tembok sekolah nyaris rubuh, hanya dibatasi sekat-sekat tipis untuk membagi ruangan, hanya berlantaikan tanah dan menjadi langganan banjir, atau akses ke sekolah menjadi terhambat karena satu-satu jalan atau jembatan yang dapat digunakan mengalami longsor dan terputus. Tapi itu semua tak menyurutkan langkah anak-anak untuk datang ke sekolah meski kadang harus bertaruh nyawa demi bisa sampai disekolah.
Walau terkesan kurang mendapat perhatian pemerintah, rasa memiliki negeri ini hendaknya jangan pernah pudar. Apalagi bagi para penduduk  yang berada di pulau-pulau terluar Indonesia. Negeri seberang yang gilang gemilang hanya sejauh pandangan mata. Sungguh menggoda rasa nasionalisme. Tidak percaya? Ada Belqis, Pengajar Muda Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang terhenyak saat anak-anak muridnya menjawab nama ibukota Indonesia adalah Serawak. Atau tanya saja Fendi Mulyo, Pengajar Muda di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara seberapa besar rasa haru sekaligis bangga yang ia rasakan ketika akhirnya Sang Saka Merah Putih pertama kali berkibar di Desa  Nadenakele, tepatnya di SDN Inpres Nadenakele.
Inilah realitas negeri kita. Miris? Iya. Menyedihkan? Sudah pasti. Pasrah? Jelas tidak. Indonesia Mengajar adalah bukti nyata ada banyak orang yang percaya dan bertindak untuk melaksanakan salah satu amanat yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Sejarah menulis bahwa negeri kita memiliki jutaan pahlawan tak dikenal. Sejarah panjang bangsa kita sampai hari ini dipenuhi oleh perjuangan panjang para leluhur kita yang kode genetikanya ada di darah kita.
Ya, Anda semua, anak muda Indonesia dan seluruh bangsa Indonesia memiliki kode genetika sederhana bernama : berjuang. Dan karena itu bila dihadapkan pada pilihan sederhana, kita akan memilih dengan mudah : lebih baik menyalakan lilin daripada sekedar mengutuki kegelapan. Lebih baik berjuang daripada berpangku tangan.” (p. xv – Anies Baswedan)

Review buku : Orangtuanya manusia

Menjadi OrangTuanya Manusia

Judul buku      : Orangtuanya Manusia
Penulis             : Munif Chatib
Penerbit           : Kaifa (grup Mizan)
Tahun              :  2012
Hal                  : 212 halaman
Harga              : 65.000
 
review by Rina Susanti
Secara sadar atau tidak banyak orang tua melabeli anaknya dengan label negatif hanya karena satu dua kali kesalahan yang dilakukan anak. Nakal karena merebut mainan temannya, nakal karena tak mau mengalah dengan adiknya , pemalas hanya karena tidak betah berlama-lama membaca buku, malas karena sulit saat bangun pagi. Dan sederet lebel negatif lain. Sebaliknya, orang tua kerap lupa dengan kemajuan-kemajuan kecil yang sudah dicapai seorang anak. Kemajuan yang sifatnya  afektif seperti menolong teman, memberi makan kucing atau tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Mudahnya pelabelan ini tidak bisa  dilepaskan dari paradigma lama bahwa anak pintar dan hebat identik dengan kepintarannya membaca, menulis dan berhitung. Kepandaian dan kehebatan yang bisa diukur dengan angka alias bersifat kognitif. Angka-angka yang sebenarnya tidak diperlukan saat anak terjun dalam kehidupan sosial untuk mencapai kesuksesan dalam hidup.
Paradigma in dimulai saat tes IQ (Intelligence Quotient) untuk pertama kalinya di gagas oleh Alfred Binet pada tahun 1905, sebuah tes yang digunakan untuk rekrutmen tentara pada masa perang dunia I yang kemudian digunakan pada masa Revolusi Industri sebagai tes penerimaan karyawan. Dalam perkembangannya tes ini digunakan di sekolah-sekolah dan institusi pendidikan sebagai penentu kecerdasan seorang anak. Tes yang secara tidak langsung mengkatagorikan anak pintar dan anak gagal berdasarkan angka yang didapat. Padahal tes IQ ini hanya mengukur dua kemampuan yaitu kemampuan verbal dan matematis.
Ilmu psikologi berkembang  dan memunculkan beragam teori kecerdasan.
Tahun 1983 Howard Gardner memunculkan teori kecerdasan majemuk yang meliputi kecerdasan linguistic, matematis-logis, visual-spasial, musical, kinestesis, interpersonal, intrapersonal dan naturalis (hal 88). Tahun 1995 Dr. Daniel Goleman memunculkan teori emotional quotient  yaitu kecerdasan seseorang mengatur emosinya  dan Paul G. Stoltz, Ph. D dengan teori adversity quotient yaitu kecerdasan mengatasi kesulitan. Terakhir  kecerdasan spiritual atau spiritual quotient yang di gagas Ian Marshall dan Danah Zohar.
Teori kecerdasan yang membuktikan bahwa kecerdasan seorang anak tidak bisa diukur dengan angka dan menegaskan jika  semua anak adalah hebat.  Yang kemudian diperlukan adalah kepandaian dan keuletan setiap  orang tua  menemukan, mengarahkan dan memupuk kecerdasan seorang anak .
Lalu kepandaian seperti apa yang diperlukan orang tua untuk menemukan, mengarahkan dan memupuk kecerdasan seorang anak yang diperlukan kelak untuk kehidupannya kelak? Seorang anak yang tumbuh menjadi pribadi berkarakter yang religius, jujur, adil, mandiri, cinta damai, peduli lingkungan dan sederat karakter baik lainnya. Tentunya ilmu pengetahuan caranya menjadi orang tua. Sayangnya hal ini tidak disadari banyak orang tua. Kebanyakan orang tua nekat menjadi orang tua, hanya berbekal pengalaman bagaimana mereka dulu di didik orang tuanya, begitu seterusnya. Padahal ilmu dan teknologi berkembang, beberapa pola asuh lama tidak lagi cukup mempan untuk anak menghadapi tantangan zaman. Ketika teknologi informasi membuka sekat bagi anak untuk mengakses semua hal termasuk hal yang seharusnya dilarang untuk usianya. Salah satunya pornografi yang memberikan dampak negatif lebih berbahaya daripada narkoba bagi seorang anak (hal 196).
Tak ada sekolah untuk menjadi orang tua, tapi begitu banyak buku dan artikel yang ditulis  para ahli untuk menjadi orang tua salah satunya buku Orangtuanya Manusia. Buku ketiga dari Trilogi yang ditulis Munif Chatib, seorang praktisi Parenting, setelah Sekolahnya Manusia (2010) dan Gurunya Manusia (2011) . Judul buku yang menarik dan provokatif sekaligus membuat menelaah kembali  peran orang tua dalam membentuk karakter anak. Kutipan di halaman 145 ini bisa dijadikan cermin yang cocok; pandai, namun tidak punya kepedulian; cerdas, namun tidak bermanfaat buat orang banyak; berpendidikan tinggi, namun tidak punya rasa keadilan. Tak ubahnya seperti robot bukan?
Hal berikut ini yang membedakan orangtuanya manusia dengan orangtua yang secara tidak langsung menjadikan anaknya robot;
Mendidik Anak sesuai Fitrah
Fitrah Ilahiah atau sifat bawaan dari Sang Pecipta, seorang anak cenderung pada kebaikan jika diibaratkan secarik kertas mereka adalah kertas putih. Lingkunganlah yang kemudian memberinya warna dan kecenderungan  pada keburukan. Lingkungan di sini termasuk pengaruh pendidikan dan pola asuh orang tua.
Dalam buku Orangtuanya Manusia disebutkan   ada tujuh sumber peringai buruk anak yang menyebabkannya  berperilaku buruk yaitu; Melupakan Tuhan, Bangga riya’ dan sombong, tidak bersyukur dan mudah putus asa, kikir dan berkeluh kesah, melampaui batas, tergesa-gesa dan suka membantah. Ketujuh hal di atas bisa dijadikan kerangka acuan orang tua bagaimana  mendidik dan membimbing anak agar terhindar dari perilaku buruk tersebut.
Lingkungan keluarga dan orang tua harus berperan dalam membentuk karakter anak jika tidak anak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan lain seperti, teman, pergaulan dan media informasi.
Pembentukan karakter positif anak bisa dimulai dari memberikan apresiasi terhadap kemajuan anak sekecil apapun termasuk pencapaian yang bersifat afektif.  Apresiasi positif akan menumbuhkan rasa percaya diri, empati  dan nilai sebuah penghargaan.
Menyadari Semua Anak adalah Bintang
Semua anak hebat, pencipta yang Maha Sempurna  yang tidak pernah menciptakan produk gagal. Seorang anak yang dalam kaca mata fisik atau mental di cacat pasti adalah sebuah bintang yang bisa menyinari lingkungannya. Pasti ada kesempurnaan yang dititipkan Tuhan padanya. Banyak kisah bagaimana anak yang dinilai tak sempurna dalam kaca mata manusia memiliki keahlian yang membuatnyanya menjadi Bintang.
Yang pertama harus dimiliki orang tua untuk bisa melihat bakat seorang anak adalah kepekaan dalam melihat kemampuan anak lalu sikap konsisten dalam menilai kemampuan anak dan terakhir adalah membangun konsep diri pada adak bahwa dirinya bisa. Aku bisa!
Menjadi Guru Terbaik untuk Anak
Gaya belajar setiap anak berbeda, tergantung kecenderungan kecerdasannya. Jika anak cerdas linguistic dia akan betah belajar denagn cara membaca. Anak dengan kecerdasan naturalis lebih suka belajar dengan cara mengamati langsung fenomena alam. Anak dengan kecerdasan musik lebih suka belajar sambil mendengarkan musik dan seterusnya.
Orang tua dituntut paham dengan gaya belajar anak dan bisa mengukur kemampuan anak. Walaupun tidak semua, beberapa orang tua kerap memaksa anak mempelajari banyak hal dengan harapan agar anak pintar. Orang tua tidak mau tahu apakah anak berminat dan mampu menyerap semuanya. Padahal efek pemaksaan ini bisa menyebabkan anak mengalami downshifting yaitu penyusutan kapasitas saraf untuk berpikir rasional. Anak menjadi tidak termotivasi untuk belajar dan stress.
Sikapi banyaknya pekerjaan rumah yang dibebankan pihak sekolah dengan bijak. Jika anak tak mampu jangan sungkan mendiskusikan dengan pihak guru dan sekolah. Disinilah pentingnya memilih sekolah yang tepat. Sekolah yang mempunyai visi dan misi yang sama terhadap anak kita kelak.
Di rumah dan sekolah anak-anak kita dibentuk, menjadi apa mereka kelak. Oramg tua dan guru sama dituntut memiliki ilmu yang cukup untuk menjadi orangtuanya manusia. (rs)

Ulasan Buku – Gurunya Manusia: Guru Yang Mencerdaskan Setiap Siswa

Menyoroti penyelenggaraan pendidikan oleh sekolah, kompetensi guru dipandang sebagai faktor penting dalam upaya memanusiakan manusia. Menemukan dan mengasah potensi siswa serta menumbuhkan kesadaran mereka sebagai rahmat bagi semesta merupakan bagian dari tugas mulia seorang guru. Agar dapat menunaikantugas tersebut maka kematangan spiritual, mental dan pengetahuan guru menjadi prasyarat agar guru dapat selalu meneladankan sikap belajar yang positif. Pesan inilah yang seolah ingin disampaikan oleh Munif Chatib melalui buku keduanya.

Penulis best seller Sekolahnya Manusia kembali menggelitik kesadaran para guru untuk selalu mengembangkan kemampuan diri melalui Gurunya Manusia yang diterbitkan oleh Kaifa, 2011. Buku ini merupakan refleksi atas sepuluh tahun pengalaman beliau membangun sekolahnya manusia. Tak sekedar mengkritis tentang lemahnya sikap mental dan metodologi yang dimiliki oleh guru ditanah air, penulis yang juga pernah menjadi murid Bobbi de Potter ini menawarkan berbagai solusi praktis atas permasalahan-permasalahan dalam pengelolaan kelas dan pengembangan materi ajar.

Tak berbeda dengan buku sebelumnya, Gurunya Manusia menyoroti pengelolaan pembelajaran yang dibingkai Kecerdasan Majemuk. Dengan mengapresiasi perbedaan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa, guru dapat mengadaptasikan strategi mengajarnya sehingga siswa mampu merekonstruksi nilai-nilai pengetahuan sesuai dengan potensinya masing-masing.  Tak sekedar konsep, Munif Chatib jugamengisahkan berbagai contoh penerapannya di kelas yang didasarkan atas kejadian nyata yang beliau alami.

Pada bagian awal, Munif Chatib bertutur tentang berbagai respon yang ia terima atas upayanya membangun sekolahnya manusia. Bagian tersebut akan membawa pemahaman pembaca ataspentingnyaupaya mengambangkan kompetensi guru.Berdasarkan pengalaman penulis sebagai konsultan pendidikan, penulis kemudian memberikan solusi atas kendala yang menghalangi langkah guru untuk menyengajakan diri belajar. Selanjutnya, penulis juga mengingatkan pembaca tentang teori apersepsi. Tak lupa, penulis menyisipkan penjelasan tentang gelombang otak dan berbagai ide segar yang dapat diadaptasikan untuk mengawali pembelajaran.

Pada bagian lain, buku ini diperkaya dengan tulisan tentang strategi Kecerdasan Majemuk.Pembaca akan dipahamkan dengan beberapa istilah seperti pendekatan, metodologi, tehnik dan strategi. Penting bagi guru untuk mengetahui dan mencobakan berbagai strategi: diskusi, action research, klasifikasi, analogi, identifikasi, sosiodrama, penokohan, flash card, gambar visual, papan permainan, wayang, applied learning, movie learning, environment learning maupun service learning. Strategi-strategi tersebut ditulis lengkap dengan kelebihannya, prosedur, contoh hingga kaitannya dengan teori kecerdasan majemuk. Gurunya Manusia juga dilengkapi dengan penjelasan ringkas bagaimana guru dapat menyusun lesson plan kreatif beserta contohnya. Pembahasan teori serta contoh penerapannya menjadikan buku ini sangat layak dibaca oleh seluruh guru di tanah air.

Namun yang menjadi poin penting adalah tergugahya kesadaran guru untuk memanajemeni diri dalam mengembangkan kompetensi profesionalnya sehingga mampu mengadaptasi konsep dan solusi yang ditawarkan penulis. Tanpa kesadaran ini, maka buku yang sarat pengetahuan ini hanya akan senilai dengan tumpukan kertas using setebal lebih dari 250 halaman.

(Widie Dewantara – Menjelang Shalat Ashar – Kamar Inspirasi)

Review Buku “Indonesia Mengajar”

 

Indonesia Mengajar. Siapa sih yang sekarang tidak tahu tentang Indonesia Mengajar? Gerakan ini telah secara drastis menjadi buah bibir banyak orang, khususnya para pemuda. Indonesia Mengajar (IM) merupakan suatu gerakan yang digagas oleh Pak Anies Baswedan yang dimulai di tahun 2010. Yap, umur gerakan ini memang masih muda. Tapi efeknya luar biasa.  IM angkatan pertama telah membuahkan 51 Pengajar Muda yang baru saja purna tugas. Setahun telah mereka lewati di pelosok negeri untuk mengabdi. Mengabdi demi menumbuhkan mimpi anak-anak pelosok Indonesia.

Buah tangan dari perjalanan mereka setahun mengajar itulah yang kemudian dibukukan. Buku dengan judul yang sama, Indonesia Mengajar, berisikan kisah-kisah 51 Pengajar Muda yang tersebar di berbagai daerah di tanah air. Buku setebal 322 halaman ini mengisahkan suka-duka para Pengajar Muda selama mereka “bertahan hidup” di daerah penempatan.

Inspiratif. Mungkin itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana isi keseluruhan buku ini. Pengajar Muda merupakan sosok-sosok pemuda Indonesia yang tangguh, yang mana mereka tidak hanya mengajar di pelosok sana, namun juga memberi inspirasi bagi anak-anak mereka maupun masyarakat desa di mana mereka tinggal.

Buku “Indonesia Mengajar” mencoba mengajak kita untuk ikut bergerak. Bergerak untuk membangun Indonesia, bagaimanapun caranya. Buku ini menularkan virus cinta tanah air yang luar biasa. Menunjukkan bahwa anak-anak negeri ini masihlah patut untuk kita banggakan.

gambar dari — > http://tantristory.wordpress.com/2011/12/09/seri-cinta-indonesia-part-1-indonesia-mengajar/

Review Buku Sekolahnya Manusia Munif Chatib

Sekolahnya Manusia, Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia

 Gambaran Umum Buku Sekolahnya Manusia

Buku Sekolahnya Manusia menyoroti pendidikan formal di Indonesia yang berbentuk sekolah. Dalam hal ini yaitu peran sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan di lapangan baik secara teknis maupun praktis.

Munif Chatib, penulis buku ini mengatakan banyak sekolah yang sadar atau tidak malah membunuh banyak potensi siswa-siswa didiknya. Beliau memberi judul buku ini Sekolahnya Manusia dikarenakan banyak sekali sekolah di Indonesia ini yang menganut Sekolahnya Robot. Secara singkat Sekolahnya Robot hanya mengajarkan aspek kognitif saja dan hasil atau kualitasnya hanya ditentukan dari tes lisan maupun tertulis. Sedangkan sekolahnya manusia adalah sekolah berbasis Multiple Intelligences, yaitu sekolah yang menghargai berbagai jenis kecerdasan siswa.

Strategi Pembelajaran Multiple Intelligences

Strategi pembelajaran memang memiliki nilai positif lebih banyak ketimbang strategi lainya, setiap guru bebas memilih dan merancang proses pembelajaranya sendiri. Setiap daerah dan bahkan antara sekolah satu dan lainya saling berbeda. Hal ini merupakan keuntungan dalam bidang perencanaan proses pembelajaran sekaligus kelemahanya.

Pelaksanaan strategi Multiple intelligences akan sangat sulit bila menitik beratkan hanya kepada satu kecerdasan, dan itulah yang kerap ditemui para guru. Untuk memudahkan pelaksanaanya, langkah awal haruslah difokuskan pada model aktifitas pembelajaran dahulu, baru setelah itu analisis terhadap aktivitas tersebut berkaitan dengan kecerdasan apa saja. Beberapa aktivitas menarik untuk pembelajaran adalah sebagai berikut:

Ü  Teater Aristoteles

Di sebuah tempat yang rindang dan nyaman, siswa-siswa bergiliran mempresentasikan materi pelajaran yang menurut dia paling sulit, layaknya gaya Aristoteles mengajar murid-muridnya zaman dahulu.

Ü  Movie learning

Sebelum pemutaran film, siswa dibagi beberapa kelompok kemudian diberikan pertanyaan yang berkaitan dengan film tersebut. Di akhir pertemuan, setiap kelompok mempresentasikan hasilnya dan mendiskusikanya bersama-sama.

Ü  Be a Discover

Strategi pembelajaran yang mana setiap siswa mengalami kejadian pembelajaran dengan sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya menemukan makanan kelinci, menjadi kasir dan lain sebagainya.

buku sekolahnya manusiaMerancang Strategi Pembelajaran

Beberapa faktor yang menyebabkan guru mengalami kesulitan dalam merancang dan mendesain strategi pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan gaya belajar siswa diantaranya:

1)      Paradigma pembelajaran

Pola belajar sejatinya ada dua yaitu: pertama, guru mengajar atau memberikan presentasi; kedua, siswa belajar atau siswa beraktivitas. Proses transfer pengetahuan dalam pembelajaran akan berhasil apabila waktu terlama difokuskan pada kondisi siswa beraktivitas. Proses ini akan lebih cepat apabila didukung dengan suasana yang menyenangkan. Guru harus meyakini bahwa ketika guru mengajar, belum tentu siswa ikut belajar.

2)      Modalitas Belajar

Terdapat tiga macam modalitas yaitu: visual seperti warna, gambar, tabel diagram, grafik peta pikiran dll; Auditorial meliputi bunyi, suara, musik, irama, cerita, dialog, tanya jawab, syair dll; Kinestetik seperti gerak tubuh, emosi, koordinasi dll. Untuk meancang pembelajaran yang terbaik adalah gunakanan modalitas tertinggi yaitu kinestetik dan visual dengan akses informasi melihat, mengucapkan dan melakukan.

3)      Memori Jangka Panjang

Mengaitkan materi yang diajarkan dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari yang mengandung keselamatan hidup.

4)      Muatan Emosi yang Kuat

Menyampaikan materi kepada siswa dengan melibatkan emosinya. Hindarkan pemberian materi secara hambar dan membosankan.

5)      Punya Arti

Melibatkan partisipasi siswa untuk menghasilkan manfaat yang nyata dan dapat dirasakan langsung oleh orang lain. Siswa merasa mempunyai kemampuan untuk menunjukkan eksistensi dirinya dengan kata lain perbuatan tersebut memiliki arti yang sangat dalam dirinya.

6)      Diulang-ulang

Menjadi Guru Multiple Intelligences

Guru adalah kunci kualitas sebuah sekolah. Beberapa syarat mendasar untuk menjadi guru profesional adalah:

1)      Bersedia untuk selalu belajar

2)      Secara teratur membuat rencana pembelajaran sebelum mengajar

3)      Bersedia diobservasi

4)      Selalu tertantang untuk meningkatkan kreativitas

5)      Memiliki karakter yang baik